INNALLILAHI WA INNAILLAHI ROJIUN

Telah berpulang ke rahmatullah, simbah Pawiro dinomo, ny, umur 85 Tahun,
Semoga Arwah Almarhumah di terimas disisi ALLOH SWT,

RENOVASI MASJID AL-IKHSAN GENTAN

Masjid al-ikhsan Gentan Magomulyo seyegan mulai hari ini di renovasi bagian serambinya agar jamaah dapat optimal.
Monggo silahkan beinfak untuk pembangunan mejid ini aga dapat berjalan lancar.

mbulu2

jalan utara

jalan penuh debu

jalan di gentan

mbulu dan merapi 2010

bulu

jalan masuk selatan

HUJAN ABU

Masyarakat mbulu, yang ada di perantauan dan yang dirumah, kita baru mengalami hujan abu dari gunung merapi semoga kita sealu siaga dan waspada, semoga tambah iman kepada Tuhan yang menciptkan segala sesuatu.

Gugah sahur 2009

tim gugah sahur masjid al-ihsan gentan

Keluarga Miskin Sleman diatas Rata-Rata Nasional

Kamis, 29 Juli 2010 14:35:00
Wakil Bupati Sleman, Sri Purnomo dalam puncak Hari Anak Nasional di Sleman. (Foto: Ardhi W)

SLEMAN (KRjogja.com) - Jumlah keluarga miskin di Kabupaten Sleman terbilang cukup tinggi, yakni mencapai 22,29 persen. Prosentase tersebut berada di atas rata-rata nasional yang mencapai 14 persen. Wakil Bupati Sleman, Sri Purnomo menegaskan, tingginya angka keluarga miskin tersebut menjadi tanggung jawab seluruh elemen masyarakat. Pasalnya, kekuatan pembangunan justru terletak di masyarakat.

“Pemerintah daerah hanya memberikan dana stimulan saja. Sementara kekuatan utama pembangunan sebenarnya berada di masyarakat itu sendiri. Oleh karena itu, budaya gotong royong harus terus dibangun menjadi ciri khas masyarakat,” ujarnya dalam puncak peringatan Hari Bhakti Gotongroyong, Hari Keluarga Nasional dan Hari Anak Nasional di Balai Desa Tirtomartani Kalasan Sleman, Kamis (29/7) siang.

Sementara untuk menekan tingginya keluarga miskin di Sleman, pemda kini tengah menekan angka pertumbuhan penduduk. Angka pertumbuhan penduduk di Sleman yang mencapai 1 persen per tahun ini akan terus di tekan hingga jauh di bawah 1 persen. “Prosentase keluarga miskin di Sleman ini memang di atas rata-rata nasional. Harapannya, dengan menekan pertumbuhan penduduk, maka kesejahteraan bisa ditingkatkan. Tetapi, memang butuh kerjasama dengan seluruh elemen masyarakat,” imbuhnya.

Sementara itu, Kepala Bidang KB, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Sleman, dr Endang Pujiastuti M. Kes menambahkan, dari data BKKBN tahun 2009, terdapat 32,35 persen keluarga pra sejahtera dan sejahtera I di Kabupaten Sleman. “Kalau ditotal, ada sekitar 25,7 ribu keluarga pra sejahtera. Ini butuh penanganan yang serius dan dilakukan secara terus menerus serta terpadu dengan bidang-bidang yang lain,” jelasnya.

Oleh karena itu, pada peringatan Hari Bhakti Gotongroyong, Hari Keluarga Nasional dan Hari Anak Nasional ini, pihaknya merangkul masyarakat serta melibatkan dinas-dinas terkait dalam upaya pengembangan masyarakat. “Kami berharap, upaya-upaya yang sudah dibangun ini terus dilanjutkan pada kepemimpinan Bupati Sleman periode selanjutnya,” harapnya. (Dhi)

di ambil dari www.krjogja.com

Sleman Pertahankan Tradisi “Nyadran”

Sleman Pertahankan Tradisi “Nyadran”
Jumat, 30 Juli 2010 | 09:22 WIB

SLEMAN, KOMPAS.com — Masyarakat di Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, sampai saat ini masih mempertahankan ritual tradisi budaya nyadran atau melakukan upacara doa dan selamatan di makam leluhur masing-masing desa setiap menjelang datangnya bulan puasa.

“Upacara adat nyadran ini selain sebagai ungkapan syukur atas berkah dari Tuhan Yang Maha Kuasa juga untuk mengirim doa bagi arwah para leluhur, khususnya cikal bakal atau pendiri kampung,” kata Kepala Seksi Dokumentasi dan Informasi Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Sleman Wasita, di Sleman, Jumat(30/7/2010).

Menurut dia, selain doa dan tabur bunga, upacara ritual adat “nyadran” ini juga diisi dengan kenduri warga masyarakat sebagai ungkapan terima kasih atas limpahan rezeki dan keselamatan dalam bekerja.

“Selain itu ada juga beberapa wilayah yang menyelenggarakan berbagai atraksi kesenian dan budaya untuk memeriahkan upacara ritual adat nyadran ini,” katanya.

Ia mengatakan, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Sleman sangat mendukung kegiatan upacara ritual adat nyadran ini karena, selain sebagai pelestarian tradisi budaya peninggalan leluhur, juga dapat dikemas sebagai atraksi wisata yang layak untuk dinikmati wisatawan.

“Kegiatan nyadran ini juga mampu dikemas dengan berbagai atraksi pendukung sehingga menarik bagi wisatawan nusantara ataupun asing,” katanya.

Wasita mengatakan, sejumlah wilayah yang menggelar upacara ritual adat nyadran tersebut di antaranya adalah masyarakat Desa Margokaton, Kecamatan Seyegan, yang akan menggelar ritual pada Jumat, 30 Juli, di Makam Ngaran Margokaton Seyegan dengan rangkaian kegiatan Merti Dusun.

“Pada malam harinya akan digelar pentas Rodhatan Samroh dan Badui dan dilanjutkan pergelaran wayang kulit semalam suntuk oleh dalang Ki Suwondo,” katanya.

Kemudian pada Minggu 1 Agustus di Lapangan Gamelan, Desa Sendangtirto, Kecamatan Berbah, dan di Serambi Mesjid Kagungan Dalem Sulthoni Wotgaleh serta Makam Wotgaleh, digelar kegiatan Sadranan Agung Wotgaleh yang dilakukan abdi dalem/perabot Pasarean Wotgaleh dan warga Sendangtirto serta ahli waris Pangeran Purboyo.

“Kegiatan Sadranan Agung Wotgaleh ini juga akan dimeriahkan berbagai atraksi kesenian dan budaya,” katanya.

Selain di Sendangtirto, pada 1 Agustus upacara “nyadran” juga digelar masyarakat dusun Kemiri, Kecamatan Tempel, di kompleks makam Kemiri dan masyarakat Kecamatan Minggir yang menggelar kegiatan di Makam Wuni Sutan Sendangsari, Minggir.

“Pada 1 Agustus juga akan digelar upacara adat Tambak Kali  berupa pergelaran tari Catur Manunggal (Teatrikalisasi Sejarah Argomulyo), Iqror Hajat, Tahlil Singiran, Mragat dan Methak Angkoro, dan Nggabur Peksi Bedhamen,” katanya.

Adapun masyarakat Wonolelo, Desa Widodomartani, Kecamatan Ngemlak, akan menggelar kirab budaya Sadranan Ki Ageng Wonolelo pada 3 Agustus yang berupa ziarah kubu, kirab jodang dan gunungan hasil pertanian serta gunungan apem. “Selain itu juga akan digelar pengajian dan kenduri massal,” katanya.

di ambil dari kompas.com

JALAN ANAK TIRI

jalan yang membelah kampung antara desa gentan dan mbulu, meripakan jalan anak tiri, begitulah ungkapan beberapa malam lalu waktui obrolan gardu. karena dilihat merupakan jalan sektorral tetapi tidak diperbaiki.
dana tersebut dulu pernah di danai dengan mengunakan program PPK, anggaran cuma dikeraskan saja. tidak sampai proses pengaspalan, sehingga sampai sekrang mangkrak tidak terurus.
mungkin juga pihak pemerintah dusun harus lebih pro aktif lagi untuk mengusulakn agar jalan tersebut segera diperbaiki. atau nantinya masayakat menanamni dengan pohon pisang karena tidak bisa dilewati.
dilihat juga kesadaran masayakat harus memperhatikan ini karena jalan yang didepan rumah sudah bagus, mengapa jalan yang ada di depan desa bahkan menjadi muka desa tidak kunjung di perbaiki.
ini perlu itikad baik bersama agar jalan tersebut dapat digunkan sebagaimana layaknya jalan tersebut diaspal ayau di cor semen.
demikian

Turut Berduka Cita

keluarga besar bulu, mengucapkan turut berduka cita atas wafatnya Ibu Padme Sentono dalam usia 84 Tahun, ibu dari bapak Suharjono (mantan Kades Margomulyo) dan Suharto (Kadus Dusun IV ngemplaksari.

Previous Older Entries

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.