WISATA

WISATA : UPACARA ADAT DI MARGOAGUNG ; Napak Tilas Keteladanan Mbah Bregas
04/05/2008 05:28:40 Seperti apa penampilan fisik Mbah Bregas semasa hidupnya, tak banyak orang di Padukuhan Ngino XII yang tahu. Demikian pula nama aslinya siapa, sulit sekali mencari informasi dan referensinya. Namun demikian mereka selalu memperingati jasa dan keteladanannya dengan menggelar upacara adat bersih desa yang berlangsung meriah sepanjang tahun.

PADUKUHAN Ngino XII berada di kawasan Ngringin, Desa Margoagung, Kecamatan Seyegan, Kabupaten Sleman Yogyakarta. Selain menghasilkan padi dan tanaman pertanian lainnya, di kampung itu banyak perajin batu-bata. Sudah dua tahun lebih saya tak pernah lagi pergi ke sana.
Pertama kali datang ke Ngino, ketika meliput kejadian gempa bumi dahsyat 27 Mei 2006 silam, yang juga menghancurkan sebagian besar rumah-rumah warga setempat. Wajarlah ketika Jumat (2/5) kemarin kembali mampir ke sana, rasanya agak ‘pangling’ melihat kondisi di Ngino sudah pulih kembali dan siap menggelar upacara adat bersih desa ‘Mbah Bregas’.
Seusai warga menunaikan salat Jumat, jalan-jalan di Ngino terlihat ramai. Warga dan pengunjung dari luar sabar menantikan datangnya barisan kirab, yang biasanya dimulai dari rumah Kepala Padukuhan Ngino XII menuju Balai Dusun Ngringin.
Di sepanjang pinggir jalan juga diramaikan oleh para penjual makanan dan minuman. Mereka sudah mempersiapkan diri jauh sebelum upacara adat tersebut digelar untuk menjual berbagai produk khas. Mulai dari makanan serabi, daging bebek bacem sampai cinderamata. Penjual ‘kerak telor’ Betawi, juga ikut kelarisan.
Seharusnya kirab itu dimulai pukul dua siang, namun kali ini agak molor sampai jam empat sore. “Rutenya dirubah, demi menghormati Pak Edi (Edi Yulianto -red), lurah kami yang baru saja dilantik. Arahnya dari Balai Desa Margoagung ke timur, belok ke selatan melewati Dusun Nganggrung, terus ke barat lewat Dusun Krapyak, berlanjut ke utara lewat pasar Ngino, belok ke barat dan berakhir di balai dusun Ngringin,” tutur Retno, salah seorang warga Ngino.
Sehari sebelumnya, warga melakukan prosesi ‘Tirta Saptomulyo’, yakni pengambilan air tujuh klenthing pada malam hari, yang akan ikut dikirabkan. Prosesi itu dilanjutkan pada pagi hari, dengan pagelaran wayang kulit di Balai Dusun Ngino.
Cikal Bakal
Hanya sedikit informasi dan referensi yang dapat diperoleh mengenai siapa itu Mbah Bregas. Tokoh legendaris di Ngino itu dianggap sebagai leluhur atau cikal bakal warga di kampung tersebut. Ada yang menyebutkan, ia seorang bangsawan Majapahit yang melarikan diri dan menetap menjadi pertapa di Ngino.
Sedangkan menurut informasi Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Sleman, Mbah Bregas merupakan panderek (pengikut) Sunan Kalijaga. Ia ditugasi untuk menyebarkan agama Islam di Desa Margoagung.
Soal budi baiknya, ada cerita yang mengisahkan ketika timbul pagebluk, yakni wabah penyakit yang menyerang desa, ia memberi pengobatan kepada masyarakat. Dari sinilah ia, lelaki yang kurang diketahui nama aslinya ini, mendapat julukan Mbah Bregas, yang berarti bagas-waras (sehat).
Konon kebiasaannya selalu mengadakan upacara merti desa setelah panen raya, sebagai wujud rasa syukurnya kepada Tuhan. Kebiasaannya ini dilestarikan masyarakat Ngino sampai sekarang. Namun dalam perkembangannya, masyarakat Ngino menamakan upacara adat tersebut menjadi upacara tradisional bersih desa ‘Mbah Bregas’. Hal itu untuk mengingat perjuangan Mbah Bregas, leluhur mereka.
Penghormatan warga setempat terhadap Mbah Bregas juga sampai kepada hal lainnya. “Kalau ada orang menikah di sini, pasangan pengantinnya diminta mengelilingi uwit ngringin (pohon beringin), salah satu petilasan Mbah Bregas. Walaupun pohon itu sudah lama roboh,” ujar Retno.
Keramaian Kirab
Lega rasanya, ketika menengok ke tikungan jalan yang menuju ke balai dusun, mobil polisi wisata sudah tampak di depan. Artinya, barisan kirab upacara bersih desa ‘Mbah Bregas’ sebentar lagi lewat. Apalagi suara drumband tradisional semakin terdengar jelas. Semua mata yang hadir pun berpaling ke tikungan jalan itu.
Benar saja, barisan ‘pambuka lampah’ yang membawa spanduk upacara muncul di barisan depan. Disusul para perempuan pembawa air tujuh klenthing. Selanjutnya di belakangnya, barisan bregada prajurit Mbah Bregas yang mengawal gunungan ‘ulu wetu’ (hasil bumi).
Lengkapnya, barisan kirab terdiri dari cucuk lampah canthing balung, pager ayu dan pager bagus yang terdiri dari sepuluh remaja putri dan sepuluh remaja putra , serta bregada prajurit Mbah Bregas. Sesaji yang ikut dikirab, berupa jodang wiwitan, tumpeng dan gunungan ulu wetu. Di belakangnya, masih ada barisan anak-anak kecil dan warga yang ikut kirab, dengan busana tradisional dan pakaian karnaval.
Barisan dan pembawa sesaji tersebut berjalan menuju ke halaman di samping Balai Dusun Ngringin. Di sana sudah menunggu tamu undangan, yang di antaranya hadir Wakil Bupati Sleman, Drs H Sri Purnomo. Di puncak acara, gunungan ulu wetu menjadi rebutan warga dan pengunjung, setelah diserahkan oleh Jagabaya kepada lurah desa.
(Hari S)-a

di ambil dari Koran Kedaulatan rakyat 04/05/2008 05:28:40

1 Komentar (+add yours?)

  1. Endry Jarmanto, nganggrung
    Okt 24, 2013 @ 17:57:24

    Kulo Nuwun…., kulo saking Tanjung Enim Sumsel. Nyuwun informasi perkembangan Dusun Nganggrung Margoagung, awit kula sampun dangu wonten tanah sebrang dados kirang pidados kawontenan mriku. kulo lahir wonten dusun Nganggrung mriku, matur nuwun saderngipun

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: