Sleman Pertahankan Tradisi “Nyadran”

Sleman Pertahankan Tradisi “Nyadran”
Jumat, 30 Juli 2010 | 09:22 WIB

SLEMAN, KOMPAS.com — Masyarakat di Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, sampai saat ini masih mempertahankan ritual tradisi budaya nyadran atau melakukan upacara doa dan selamatan di makam leluhur masing-masing desa setiap menjelang datangnya bulan puasa.

“Upacara adat nyadran ini selain sebagai ungkapan syukur atas berkah dari Tuhan Yang Maha Kuasa juga untuk mengirim doa bagi arwah para leluhur, khususnya cikal bakal atau pendiri kampung,” kata Kepala Seksi Dokumentasi dan Informasi Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Sleman Wasita, di Sleman, Jumat(30/7/2010).

Menurut dia, selain doa dan tabur bunga, upacara ritual adat “nyadran” ini juga diisi dengan kenduri warga masyarakat sebagai ungkapan terima kasih atas limpahan rezeki dan keselamatan dalam bekerja.

“Selain itu ada juga beberapa wilayah yang menyelenggarakan berbagai atraksi kesenian dan budaya untuk memeriahkan upacara ritual adat nyadran ini,” katanya.

Ia mengatakan, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Sleman sangat mendukung kegiatan upacara ritual adat nyadran ini karena, selain sebagai pelestarian tradisi budaya peninggalan leluhur, juga dapat dikemas sebagai atraksi wisata yang layak untuk dinikmati wisatawan.

“Kegiatan nyadran ini juga mampu dikemas dengan berbagai atraksi pendukung sehingga menarik bagi wisatawan nusantara ataupun asing,” katanya.

Wasita mengatakan, sejumlah wilayah yang menggelar upacara ritual adat nyadran tersebut di antaranya adalah masyarakat Desa Margokaton, Kecamatan Seyegan, yang akan menggelar ritual pada Jumat, 30 Juli, di Makam Ngaran Margokaton Seyegan dengan rangkaian kegiatan Merti Dusun.

“Pada malam harinya akan digelar pentas Rodhatan Samroh dan Badui dan dilanjutkan pergelaran wayang kulit semalam suntuk oleh dalang Ki Suwondo,” katanya.

Kemudian pada Minggu 1 Agustus di Lapangan Gamelan, Desa Sendangtirto, Kecamatan Berbah, dan di Serambi Mesjid Kagungan Dalem Sulthoni Wotgaleh serta Makam Wotgaleh, digelar kegiatan Sadranan Agung Wotgaleh yang dilakukan abdi dalem/perabot Pasarean Wotgaleh dan warga Sendangtirto serta ahli waris Pangeran Purboyo.

“Kegiatan Sadranan Agung Wotgaleh ini juga akan dimeriahkan berbagai atraksi kesenian dan budaya,” katanya.

Selain di Sendangtirto, pada 1 Agustus upacara “nyadran” juga digelar masyarakat dusun Kemiri, Kecamatan Tempel, di kompleks makam Kemiri dan masyarakat Kecamatan Minggir yang menggelar kegiatan di Makam Wuni Sutan Sendangsari, Minggir.

“Pada 1 Agustus juga akan digelar upacara adat Tambak Kali  berupa pergelaran tari Catur Manunggal (Teatrikalisasi Sejarah Argomulyo), Iqror Hajat, Tahlil Singiran, Mragat dan Methak Angkoro, dan Nggabur Peksi Bedhamen,” katanya.

Adapun masyarakat Wonolelo, Desa Widodomartani, Kecamatan Ngemlak, akan menggelar kirab budaya Sadranan Ki Ageng Wonolelo pada 3 Agustus yang berupa ziarah kubu, kirab jodang dan gunungan hasil pertanian serta gunungan apem. “Selain itu juga akan digelar pengajian dan kenduri massal,” katanya.

di ambil dari kompas.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: